Rabu, 28 November 2012

Penalaran Induktif


Penalaran adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empiric) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
Beberapa definisi Penalaran menurut para ahli:
  • Keraf (1985: 5) berpendapat bahwa Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu kesimpulan.
  • Bakry (1986: 1) menyatakan bahwa Penalaran atau Reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.
  • Suriasumantri (2001: 42) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.
Penalaran Induktif
Penalaran Induktif adalah Penalaran yang bertolak dari penyataan-pernyataan yang bersifat khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.
Secara formal, induktif dapat dibatasi sebagai proses bernalar untuk mengambil suatu keputusan, prinsip, atau sikap yang bersifat umum maupun khusus berdasarkan pengamatan atau hal-hal khusus.
Penalaran Induktif dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Generalisasi
Proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tersebut.
Generalisasi terdiri dari 2 jenis, yaitu:
1. Loncatan induktif:
fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
Misalnya adalah Sebuah di sebuah kebun binatang merupakan salah satu tempat dimana binatang buas di lestarikan, padahal kita juga tahu bahwa di kebun binatang tak hanya ada binatang buas saja, melainkan terdapat binatang mamalia.
2. Tanpa loncatan induktif:
fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
Contoh Generalisasi:
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
2. Analogi
Proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain, kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku untuk satu hal berlaku juga untuk hal lain.
Tujuan dari Analogi adalah:
  • Meramalkan kesamaan
  • Menyingkapkan kekeliruan
  • Menyusun sebuah klasifikasi.
Contoh analogi:
Junaedy adalah lulusan dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
Junaedy dapat melakukan AUDITING berbagai laporan keuangan dengan baik
Jefry adalah lulusan dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
Oleh Sebab itu, Jefry dapat meng-Audit laporan keuangan dengan baik.

3. Hubungan Kausal
Penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.
Hubungan kausal dapat terjadi dalam tiga pola:
  • Sebab ke akibat : mula-mula bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai sebab yang sudah diketahui, kemudian bergerak maju menuju pada kesimpulan sebagai akibat yang terdekat.
Misal: Budi selalu mengendarai sebuah sepeda motornya dengan kecepatan yang tidak wajar(kecepatan diatas rata-rata), hingga suatu saat motor yang ia kendarai menabrak sebuah angkutan umum
  • Akibat ke sebab : suatu proses berpikir yang bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai akibat yang diketahui, kemudian bergerak menuju ke sebab-sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat tersebut.
Misal: Budi mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor karna ia mengemudikan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata
  • Akibat ke akibat : suatu proses penalaran yang bertolak dari suatu akibat menuju akibat yang lain, tanpa menyebut atau mencari sebab umum yang menimbulkan kedua akibat itu.
Misal: Budi menabrak sebuah angkutan umum yang mengakibatkan tangan kananya terluka cukup parah

Sumber:
  1. ati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/18039/Induksi.ppt
  2. sepitri.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/…/slide+penalaran.ppt
  3. http://she2008.wordpress.com/2011/02/27/penalaran-induktif/
  4. http://ivandaru.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar